Waktu Sholat Untuk Kota Seluruh Dunia 6 Juta
Kamis, 01 November 2012
Selasa, 24 Juli 2012
Permata CAI Ke 33
| Permata CAI ke-33 Menjadi Contoh dalam Kerukunan Umat Beragama |
|
|
|
Laporan: Arifin Rusdi
Wonosalam (NOL) – CAI (Cinta Alam Indonesia) Jombang, bekerja sama dengan Pondok Pesantren Gadingmangu Perak menyelenggarakan kegiatan bertajuk Perkemahan Akhir tahun Ajaran Permata CAI ke-33 tahun 2012.
Bertempat di bumi perkemahan Kosambiwojo Wonosalam Jombang, helatan ini berlangsung dari tanggal 2-5 Juli 2012 yang kemudian dilanjutkan di daerah-daerah di seluruh Indonesia.
Berlandaskan hal diatas, seperti taun sebelumnya, CAI (Cinta Alam Indonesia), tahun ini menyelenggarakan kegiatan bertajuk Perkemahan Akhir Tahun Ajaran (Permata) yang ke-33. Dengan mengusung Motto Pemuda Beriman, Kecil Terbina, Muda Berkarya, Hidup Bersahaja, Berkeluarga Bahagia, Tua Sejahtera, Mati Masuk Surga.
Perkemahan akhir tahun ajaran yang diikuti oleh sekitar 1.800 peserta dari siswa siswi dan alumni Pondok Gading Mangu yang telah menyebar keseluruh Indonesia hingga negeri tetangga semisal Malaysia, Singapura, Australia, dan lain lain ini dikunjungi oleh hampir 25.000 pengunjung selama acara berlangsung.
Khusus bagi para Santri, Pelajar, dan Mahasiswa PP Gadingmangu, perkemahan ini adalah ajang untuk mengisi liburan aktivitas belajar baik sekolah, pondok maupun kampus agar liburannya punya makna yang positif, dan bermanfaat.
Sedangkan bagi masyarakat sekitar, kegiatan perkemahan CAI ini memiliki dampak positif, terutama bagi roda perekonomian, terbukti dengan adanya 170 stand Pasar secara tradisional walau hanya temporer.
Pada perkemahan Permata CAI yang ke 33 tahun 2012 ini juga diselenggarakan berbagai macam acara seperti pembagian sembako, gelar budaya santri, pameran promosi UKM/IKM Santri, ceramah, diskusi Workshop yang bermaterikan seputar pemuda dan persoalanya.
Pembukaan permata CAI tahun ini terasa sangat luar biasa karena dihadiri seluruh Muspida Kabupaten Jombang, Wakil Bupati, Ketua DPRD, Kapolres, Dandim 0814, Ketua Pengadilan Negeri, Kajari, Dan satrad 222 Kabuh, Ketua FKUB, Ketua FKMJ, PC INTI, Persatuan Gereja, PHBI Hindu Darma, Persatuan istri Anggota DPRD Jombang, Tokoh masyarakat seperti dari NU dan Muhammadiyah, hingga Muspika Wonosalam, dan Muspika sekitar. Hadir pula dari ketua DPW LDII Jawa Timur H. Criswanto Santoso.
Sementara itu Wakil Bupati Jombang Widjono Soeparno saat berikan sambutan mengatakan event seperti ini wajib dipertahankan karena telah menjadi tradisi tahunan yang efeknya tentu Jombang sebagai Kota Santri layak dijadikan contoh dalam kerukunan umat beragama disamping tak kalah pentingnya karena para pesertanya mayoritas para pemuda maka harapanya para tunas-tunas bangsa ini wajib diarahkan ,dibekali ketrampilan, membangkitkan jiwa enterpleanur agar kelak setelah dewasa menjadi manusia mandiri yang teguh tangguh, dalam kehidupan keseharian mengedepankan akhlakul karimah.
Dr. Idris MSi, Ketua Bakorwil Bojonegoro yang mewakili Gubernur Jawa Timur setelah membacakan sambutan Gubernur mengungkapkan “Jombang merupakan kota komplit, dimana banyak melahirkan tokoh-tokoh Kaliber Internasional, oleh karena itu kegiatan ini kedepannya dapat melahirkan tokoh andal”, tegasnya.
Bupati Jombang Soyanto yang tidak sempat menghadiri pada saat pembukaan Permata CAI tahun ini, menyempatkan hadir pada penutupan yang sekaligus secara resmi menutup acara tersebut./**
arifin.rusdi@gmail.com
Selasa, 17 Juli 2012
Senin, 16 Juli 2012
Menikahi orang yang kita cintai Vs Mencintai orang yang kita nikahi
Temen-temen pilih yang mana?
1. Menikah dengan orang yang kau cintai
2. Mencintai orang yang kau nikahi
Saat itu spontan saya memilih yang kedua: mencintai orang yang saya
nikahi (menikahi saya).
“Kenapa?”
Hhm… iya ya, kenapa?
Sebab jodoh adalah hal yang pasti, meski masih menjadi
misteri bagi orang-orang yang belum menemukannya. Sedangkan mencintai adalah hal
yang berbeda. Mencintai seseorang saat belum ada hak atasnya, bagaikan
menggenggam bara. Jika Allah berkenan menjadikannya pendamping seumur hidup,
maka bara itu akan menjelma menjadi energi untuk meciptakan kebersamaan yang
indah. Tetapi, jika Allah tidak berkenan mempersatukan, bara itu akan membakar,
dan bisa jadi menghanguskan diri sendiri.
Lebih dari itu, pilihan kedua rasanya lebih aman dari
berbagai penyakit hati, yang bisa jadi mengotori niat suci menikah karena
Allah.
Itu jawaban saya saat itu. Tetapi, beberapa jenak setelah
itu, saya termenung, mencoba berfikir lebih dalam dan menyelami jauh ke dalam
lubuk hati. Lalu, saya pun meneruskan pertanyaan itu ke temen saya yang lain.
Dan dia menjawabnya sama dengan jawaban saya.
Tetapi, saya ragu atas jawaban itu, benarkah begitu?
Pilihan pertama, menikah dengan orang yang saya cintai: Akan
dapat mengalirkan energi dan semangat untuk meraih sesuatu yang menjadi dambaan
hati. Dan tentu adalah hal yang sangat menyenangkan bisa berdampingan dengan
orang yang dicintai, tidak ragu mengumumkannya kepada public, tidak malu
mengekspresikannya, sebab cinta itu sudah dilegalkan. MENIKAH DENGAN ORANG YG
SAYA CINTAI ADALAH KEMUNGKINAN !
Pilihan kedua, mencintai orang yang saya nikahi: hhmm… Dapat
diartikan pasrah, menerima nasib ( pilihan ini bisa juga berarti kita
dijodohkan orang tua ). Ah tidak, saya menterjemahkannya menjadi bentuk syukur
kepada-Nya. Sebab apa yang telah Allah pilihkan untuk kita, tentu itulah yang
terbaik. Maka, kenapa tidak memaknai rasa syukur itu dengan mengupayakan cinta,
menumbuhkan dan merawatnya. MENCINTAI ORANG YG SAYA NIKAHI ADALAH KEHARUSAN !
Bukankah jika saat ini saya mencintai seseorang (padahal
belum ada hak saya atasnya), itu tidak tumbuh begitu saja? Ada masa-masa, ada
hal-hal, ada peristiwa yang membuat saya mencintainya. Lalu, kenapa hal-hal itu
tidak bisa ditumbuhkan kepada orang yang sudah Allah pilihkan untuk saya?
Tetapi, sekali lagi, betapa menyenangkan jika yang
pertamalah yang menjadi pilihan, menikah dengan orang yang saya cintai,
sebagaimana Fatimah yang menikah dengan Ali, sebagaimana Khadijah yang menikah
dengan nabi.
Tetapi, kalaupun akhirnya Allah memilihkan orang yang lain,
maka pilihan kedua pun bukan hal yang tidak menyenangkan. Tidak ada yang tidak
mungkin. Sebab cinta memang harus diupayakan.
Bagaimana denganmu duhai sahabatku..? Apakah akan menikah
dengan orang yang engkau cintai, atau akan mencintai orang yang engkau nikahi?
Semua adalah benar. Dan tinggal Qodar Allah yg akan
menentukan pada pilihan mana yg engkau dapatkan kelak.
semoga bermanfaat. AHJKH
Sabtu, 14 Juli 2012
Si Dhuafa
Si Dhuafa
Status ini sangat tidak mengenakkan., siapapun di muka bumi
ini yang bepikir secara logika takkan mau menyandangnya, di batin terasa diri
ini rendah , hina, di pandang sebelah mata, kadang berharap ada yang memberi,
memberi bantuan, sedekah, dan lain – lain “ makanaaann ada makanan “ si dhuafa
berebut makanan sekalipun terkadang makanan itu sudah hampir basi sisa
pemberian si kaya , atau si sukses
Bagi hamba yang tak beriman kadang berpikir logika status
dhuafa adalah kesalahan pribadi, akibat malas, orang – orang yang hanya
berpangku tangan, salahnya sendiri mau miskin, padahal tanpa ia sadari dia
telah menyalahkan, menghina takdir, kodarnya ALLAH yang menciptakan dan membuat
semua apa – apa di muka bumi ini. Padahak sebenarnya adanya si kaya , si sukses
itu karena ALLAH masih membuat adanya orang – orang miskin , dhuafa dan yatim
Dan lain – lain coba seandainya semua orang di takdirkan kaya mau kemana harta
kekayaan itu ia gunakan , apakah untuk di nikmati sendiri, maka tunggulah di
akherat nanti akan di jadikan bentuk ular Raksasa oleh ALLAH yang akan
menggigit meracuni tubuh sikaya hingga hancur meleleh,
Si dhuafa : patutlah bersyukur hartamu takbanyak untuk
dipertanggung jawabkan di akherat nanti, sehingga selevel nabi dan para
sahabatnya 4 kholifah saja berani habis habisan dan berdoa agar di matikan
dalam keadaan miskin dalam arti harta dan warisannya telah ia serahkan untuk
pengembangan dan perjuangan agama ALLAH (FisabiLILLAH) hingga status yang di sandang Nabi dan para Shabat
beliaupun dalam keadaan meninggalnya si Dhuafa , bebas hambatan di jalan
sirotol mustakim di akherat nanti, karena tidak ada hisaban harta yamg
menghalangi, Lain lagi dengan si Kaya yang meninggal dalam bergelimpangan Harta
, maka Hartanya di waris dan di miliki oleh orang lain akan kah harta itu
mengalirkan kebaikan atau malah mengalirkan dosa baginya selama di alam baka
ALLAHU A’Lamu
Alhamdu Lillahi Jaza Kumullahu Khoiroh
Jumat, 13 Juli 2012
Kisah Motivasi Zahid : Memilih Istri Akhirat (Bidadari)
Ya Allah, Alangkah Bahagianya Calon Suamiku Itu…
Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya... tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.
“Wahai saudaraku Zahid”¦.selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.
“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.
“Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah?,” kata Rasulullah SAW.
Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?”
” Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.
Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.
“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”
Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”
Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.
Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”
Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?.”
Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini?. bukankah lebih disuruh masuk?”
“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.
Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah.!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.
Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”
Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”
Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”
Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)”
Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.
“Bagaimana Zahid?”
“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.
“Sudah ada persiapan?”
Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”
Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.
Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”
Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.
Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus.”
Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”
Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”
Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).
Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.
Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”
Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154). “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS 3: 169-170).
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).
Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”
HIKMAH
Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa menjadi renungan buat kita bahwa, “Untuk Allah di atas segalanya, and die as syuhada.”
Jazakumullah.
Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya... tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.
“Wahai saudaraku Zahid”¦.selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.
“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.
“Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah?,” kata Rasulullah SAW.
Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?”
” Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.
Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.
“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”
Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”
Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.
Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”
Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?.”
Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini?. bukankah lebih disuruh masuk?”
“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.
Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah.!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.
Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”
Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”
Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”
Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)”
Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.
“Bagaimana Zahid?”
“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.
“Sudah ada persiapan?”
Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”
Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.
Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”
Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.
Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus.”
Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”
Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”
Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).
Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.
Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”
Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154). “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS 3: 169-170).
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).
Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”
HIKMAH
Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa menjadi renungan buat kita bahwa, “Untuk Allah di atas segalanya, and die as syuhada.”
Jazakumullah.
Langganan:
Postingan (Atom)
Cari di Hadits
| Search in the Hadith |
| www.SearchTruth.com |
my family
http://tripwow.tripadvisor.com/tripwow/ta-0228-b87e-7f93?ln